Pelaku industri pariwisata di Yogyakarta mendukung wacana menghapus rapid test Covid-19 sebagai salah satu syarat bepergian. Jika pemerintah menghapus ketentuan itu, maka masyarakat lebih mudah bepergian dan kegiatan wisata akan kembali menggeliat.

Surat keterangan bebas Covid-19 berdasarkan rapid test maupun swab atau PCR test masih menjadi salah satu syarat bepergian. Dasarnya adalah surat edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Namun, beberapa waktu lalu Kementerian Kesehatan menyatakan rapid test tidak direkomendasikan lagi untuk mendiagnosis orang yang terinfeksi Covid-19.

Ketua Asosiasi Tour and Travel atau Asita Daerah Istimewa Yogyakarta, Udi Sudiyanto menyambut gembira jika syarat rapid test Covid-19 untuk bepergian jadi dihapus. “Meski tujuannya baik, selama ini rapid test atau swab/PCR test Covid-19 menjadi momok bagi wisatawan,” ujar Udi Sudiyanto seperti dikutip dari Tempo, Selasa 11 Agustus 2020.

Setelah nantinya rapid test Covid-19 untuk bepergian dihapus, Udi Sudiyanto menyarankan pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, menyiapkan sistem pengganti yang lebih baik. “Intinya, yang memudahkan wisatawan untuk bepergian,” katanya.

Menurut dia, ada satu sistem yang bisa menjadi solusi pengganti surat keterangan rapid test Covid-19 itu. Sistem ini, kata Udi Sudiyanto, lebih adaptif, sederhana, membuat wisatawan nyaman, sekaligus mampu mengerakkan sektor pariwisata, tetapi tetap menegakkan kewaspadaan atau antisipasi penyebaran Covid-19.

Solusi yang dimaksud Udi Sudiyanto adalah sistem tracing online. Dari sini, pemeritah juga dapat memantau pergerakan wisatawan. Pemerintah DI Yogyakarta sudah memberlakukan tracing online di sekitar 30 destinasi yang telah menjalankan uji coba. Sistem tracing online itu menguatkan mitigasi karena mampu menelusuri perjalanan wisatawan, terutama jika terjadi penularan kasus Covid-19.

Upaya lain yang juga penting adalah edukasi kepada wisatawan untuk mematuhi protokol kesehatan. Sebab, tidak ada yang dapat memastikan kapan dan di mana wisatawan itu benar-benar aman di masa pandemi Covid-19.

Sumber: Tempo