Sejumlah pemilik hak suara tetap akan memilih kotak kosong bahkan ketika suatu pasangan calon kepala daerah didukung oleh semua partai politik, kata analis politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Yuwanto.

“Dalam teori, hal semacam itu disebut perilaku pemilih atau ‘voting behavior’,” kata Yuwanto di Semarang, seperti dikutip Antara, Sabtu (3/10/2020).

Yuwanto menggunakan kondisi Pilkada di Semarang sebagai contoh. Dalam Pilkada 2020, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi-Hevearita G Rahayu akan berhadapan dengan kotak kosong.

Yuwanto berpendapat bahwa meski pasangan Hendi-Ita diusung dan didukung seluruh partai politik dalam Pilkada 2020, diperkirakan ada yang memilih kotak kosong saat pemungutan suara nanti.

“Kalau 100 persen memilih Hendi-ita kecil kemungkinannya. Pasti ada yang pilih kotak kosong,” kata dosen politik dan pemerintahan Undip tersebut.

Ia menilai, dalam realita politik merupakan hal yang wajar jika masyarakat ada yang memilih kotak kosong dalam pemilu yang hanya diikuti calon tunggal.

Kehendak partai politik pengusung dan pendukung, lanjut dia, belum tentu merepresentasikan kehendak rakyat.

Meski demikian, menurut dia, kondisi tersebut tidak perlu menjadi hal yang perlu dipikirkan secara serius karena pasangan Hendi-Ita diperkirakan menang mutlak dalam Pilkada 2020.

Justru yang harus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, kata dia, memastikan partisipasi pemilih tetap tinggi untuk datang ke TPS pada 9 Desember 2020.

“Ini bukan hanya tugas KPU, tetapi tugas seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

Ia mencontohkan partai politik pengusung dan pendukung Hendi-Ita harus lebih menggencarkan sosialisasi ke masyarakat.

“Jangan sampai karena berpikir Hendi-Ita pasti jadi, kemudian tidak datang ke TPS,” katanya.